Propertiland Consulting

Dengan mengacu pada istilah di atas, kredit pemilikan rumah diartikan sebagai pinjaman yang diberikan oleh kreditor kepada debitor untuk membiayai pembelian rumah atau properti yang sejenis dalam jangka waktu tertentu dan debitor wajib mengangsur pembayaran dalam jumlah yang disepakati sampai berakhirnya masa kredit. Kreditor dalam KPR umumnya berupa bank, baik milik pemerintah maupun swasta. Sedangkan debitor dilakukan oleh konsumen yang umumnya perorangan.

Mengingat pertumbuhan harga properti yang signifikan bahkan hingga melebihi kenaikan tingkat pendapatan masyarakat, maka pada saat ini sudah tidak relevan lagi untuk membeli rumah atau properti lainnya dengan cara menambung. Hal ini terjadi karena setelah uang tabungan yang diperlukan terkumpul, ternyata harga rumah yang dicari sudah naik bahkan hingga dua kali lipat. Diibaratkan seperti ban belakng yang mengejar ban depan sebuah kendaraan, tidak pernah didapatkan. Menyikapi hal tersebut, mengingat rumah merupakan kebutuhan pokok setiap manusia, banyak yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan dalam membiayaai pembelian rumah atau properti lainnya.

Hal demikian cukup menguntungkan dari kedua pihak, baik bagi debitor dan kreditor. Konsumen sebagai debitir dapat segera menempati rumah yang dibelinya walapun belum dapat menyediakan uang tunai dalam jumlah yang cukup. Bahkan konsumen juga diuntungkan dengan nilai angsuran bulanan yang pada umumnya masih lebih kecil dari pertumbuhan nilai properti yang dibiayai tersebut. Dari sisi bank selaku kreditor jelas akan menguntungkan dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengajukan permohonan kredit, akanmakin besar pula keuntungannya. Ada juga bank yang mendapatkan keuntungan berlipat dari penyaluran KPR tersebut. Beberapa bank menjalin kerjasama dengan developer tertentu yang meminjam dana di bank tersebut. Bank akan memberikan fasilitas khusus, baik berupa kemudahan pengajuan ataupun bunga kredit yang lebih ringan. Selanjutnya, atas fasilitas yang diberikan oleh bank selaku penyalur kredit usaha developer tersebut, developer akan mewajibakan konsumen yang membeli unit rumah yang Ia tawarkan agar menggunakan failitas KPR dari bank tersebut, jika pembelian dilakukan secara kredit. Bank selaku penyalur kredit akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu dari penyaluran kredit usaha kepada developer dan penyaluran KPR kepada konsumen yang membeli rumah pada developer tersebut. Kerjasama ini akan menguntungkan semua pihak, baik konsumen, developer maupun bank.

Untuk pembiayaan rumah yang bukan berasal dari developer, atau rumah second yang sudah jadi, bank umumnya mempersyaratkan lokasi rumah tersebut wajib dapat dilalui mobil, bukan rumah yang berada di dalam gang. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi risiko yang mungkin timbul akibat adanya masalah kredit macet konsumen. Jika terjadi masalah kredit, rumah yang berada di dalam gang umumnya akan sulit untuk dilelang oleh bank, sehingga risiko kerugian bank akan lebih besar. Selain lokasi, hal yang perlu diperhatikan adalah sertifikat kepemilikan. Bank hanya dapat membiayai pembelian rumah yang sertifikat kepemilikannya berupa Hak Milik atau Hak Guna Bangunan. Jika salah satu sertifikat tersebut tidak tersedia, atau sertifikat yang dimiliki selain itu, misalnya Akta Jual Beli, Girik, Adat, Perjanjian pengikatan Jual Beli, atau yang sejenisnya, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah di kemudian hari yang berpotensi sengketa dan menimbulkan kerugian bank.

Selain lokasi yang tidak berada di dalam gang, beberapa hal yang biasanya menjadi pertimbangan bank antara lain:

Apakah lokasi rumah tersebut termasuk ke dalam daerah yang akan terkena pelebaran jalan
Apakah rumah dibangun di jalur hijau, sesuai rencana tata ruang daerah
Apakah bangunan tersebut didirikan di atas tanah yang berupa rawa rawa yang dikeringkan
Bagaimana status tanah yang digunakan, apakah berpotensi terjadi sengketa atau tidak
Rumah yang dibiayai nantinya akan dijadikan tempat tinggal ataukah hanya digunakan untuk tujuan spekulatif
Apakah wilayah sekitar rumah tersebut merupakan area SUTET yang dapat membahayakan penghuninya atau tidak
Apakah lokasi rumah berbatasan langsung dengan arela pemakaman atau tempat penimbunan sampah akhir
Bagaimana posisi rumah yang ada di dalam kompleks tersebut, apakah posisinya tusuk sate atau tidak

Mengenal Kredit Pemilikan Rumah (KPR)